12 Juli 1998

330. Baldatun Thayyibah, Wa Rabbun Ghafuwr

Salah satu kegembiraan waktu saya masih kanak-kanak ialah berlomba dengan anak-anak lain mendapatkan buah kelapa yang jatuh kedengaran bunyinya berdebum di tanah. Menurut adat yang diadatkan, buah kelapa yang jatuh dengan sendirinya dari pohonnya bukan lagi menjadi milik yang empunya pohon kelapa.

Terkadang kami anak-anak kecewa juga setelah mendapatkan bahwa kelapa yang jatuh itu adalah kalongkong (saya tidak tahu bahasa Indonesianya). Kalongkong adalah buah kelapa yang tidak dapat menjadi ranum karena dilubangi dan dimakan isinya oleh tupai. Mengenai hal tupai binatang penggerek pemakan isi kelapa ini, silakan baca tulisan Fuad Rumi dalam kolomnya pada tanggal 10 Juli 1998 yang berjudul: Sepandai-pandai tupai melompat tetap tupai.

Kata kalongkong ini menempatkan diri dalam sebuah syair yang menggambarkan secara metaphoris suatu negeri yang disebutkan dalam Al Quran: Baldatun Thayyibah, Wa Rabbun Ghafuwr (S. Saba-, 34:15), negeri yang makmur aman sentosa yang mendapatkan maghfirah dari Yang Maha Pemelihara.

Demkian bunyi syair seperti di bawah ini:

Putabangung butta baji'
Butta pa'dingin-dingingang
Manna kalongkong,
tu'guru' mattimbongaseng

Putabangung negeri makmur
Negeri rakyat bersejuk-sejuk
Kalongkong yang jatuh,
segera tumbuh dengan subur

Putabangung adalah sebuah kerajaan dahulukala di pulau Selayar, yang dalam lontaraq dituliskan bahwa kerajaan ini didirikan oleh Tanridioq, anak-tengah Sawerigading, adik dari I Lagaligo. Kerajaan Putabangung ini mempunyai gaukang (atribut kerajaan) yang dibawa oleh Tanridioq berupa sebuah gong (nekara) perunggu, benda pra-sejarah. Nekara yang terbesar di dunia ini sekarang dipajang di Matalalang, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Selayar, untuk obyek pariwisata budaya. Pasangan nekara ini ada di Thailand, ukurannya sedikit lebih kecil dari yang di Selayar. Yang di Selayar itu konon jantan dan yang di Thailand itu betina. Lontaraq Putabangung itu dituliskan dalam dua macam aksara, yaitu lontaraq biasa (dari Daeng Pammatte, yang mirip dengan aksara Batak dan Lampung) dan lontaraq jangang-jangang, yang mirip dengan huruf Thailand. Lontaraq Putabangung ini ada foto-kopinya dalam perpustakaan pribadi saya, sayangnya dipinjam oleh Drs H.M.Tjadi Aman dan hilang waktu ia pindah rumah.

***
Untuk mencapai Baldatun Thayyibah, Wa Rabbun Ghafuwr, jangan sampai terulang blunder (kesalahan besar, menentang Firman Allah) seperti yang telah dilakukan oleh peletak dasar strategi pembangunan di zaman Orde Baru yang diotaki oleh para pakar penganut madzhab Berkeley, yaitu pelaku ekonomi berat ke atas, kedaulatan ekonomi hanya dalam tangan para konglomerat, sebagai konsekwensi strategi akselerasi modernisasi. Dalam Seri 327 yang berjudul: Madzhab Berkeley yang Bertanggung Jawab Secara Intelektual atas Terpuruknya Perekonomian Kita, telah dibahas bahwa blunder strategi pembangunan akselerasi modernisasi tersebut ialah menentang Firman Allah:

Kay Laa Yauwna Duwlatan Bayna lAghniyaai Minkum (S. AL Hasyr, 59:7), supaya kedaulatan (ekonomi) itu jangan (beredar) di antara orang-orang kaya di antara kamu.

Dalam pembangunan industri menyikapi penanaman modal asing yang akan datang patut mendapat perhatian mengenai perimbangan secara proporsional antara industri yang padat modal dengan yang padat karya. Termasuk industri padat karya ialah industri hasil pertanian dan holtikultura (agrobased industries). Dengan demikian industri kecil (small scale industries) diperbanyak. Industri besar yang berteknologi canggih diarahkan pada industri bersih (clean industries), seperti misalnya industri transportasi, komunikasi (elektronika), industri menengah seperti tekstil. Ini untuk meredam peningkatan pencemaran. Untuk itu industri kimia harus dibatasi hanya pada industri pengilangan minyak bumi.

Kebakaran hutan baru-baru ini adalah peringatan dari Allah SWT supaya berhati-hati "main kayu", dalam arti yang sebenarnya dan dalam arti yang metaphoris. Demikianlah industri kayu harus dibatasi hanya pada hutan tanaman industri untuk memelihara hutan kita yang sangat berharga ini. Industri pulp (tidak termasuk kertas) walaupun dari hutan tanaman industri ditiadakan saja karena mencemari lingkungan. Contoh kasus protes masyarakat di Tanah Batak terhadap pabrik pulp tersebut.

Dalam Seri 319, tanggal 26 April 1998, yang berjudul: Reformasi dalam Bidang Ilmu Pengetahuan, antara lain disebutkan ciri-khas ilmu pengetahuan yang dianut secara global, yaitu:

Kelemahan ilmu pengetahuan yang berasaskan filsafat positivisme yang kita miliki sekrang ini ialah setiap ilmu pengetahuan, baik yang berkarakteristik eksperimental, maupun yang spekulatif mempergunakan approach yang sama: Orde atau taraf yang lebih rendah menjelaskan fenomena yang lebih tinggi ordenya.

Biologi, ilmu tentang hidup ini mengenyampingkan sama sekali hal yang sangat esensial bagi hidup dan kehidupan, yaitu kepribadian dan kesadaran. Ilmu ini hanya dibangun atas landasan yang rendah ordenya, seperti gerak reflex, ikatan kimiawi sampai kepada protoplasma dan osmose. Ini contoh dalam ilmu eksakta.

Ilmu ekonomi mengabaikan permasalahan tentang keadilan, solidaritas, dan dibangun di atas landasan yang jauh lebih rendah ordenya, yaitu kebutuhan individu. Ini contoh dalam ilmu non-eksakta.

Alhasil, salah satu faktor yang penting untuk mencapai Baldatun Thayyibah, Wa Rabbun Ghafuwr dalam Republik Indonesia ini, ialah: Harus mengadakan reformasi ilmu ekonomi, yaitu nilai keadilan dan solidaritas dijabarkan ke bawah ke orde yang lebih rendah yakni kebutuhan individu. Inilah yang sangat patut diperhatikan oleh para pengamat ekonomi yang beretorika dan ngerumpi melalui Indosiar, yang mengejek kebijaksanaan Pemerintah yang populis. (Saya ingat betul mimik pembawa acaranya, Wimar Witular melontarkan kritik kebijakan populis Pemerintah itu dengan senyum sinis, yang disambut gelak oleh Syahrir, yang betul-betul menikmati kebebasan mngeluarkan pendapat). WaLlahu a'lamu bishshwab.

*** Makassar, 12 Juli 1998