2 Februari 1997

260. Siang Berganti Malam

Sekali lagi dikemukakan, bahwa dalam bulan Ramadhan ini kolom ini diisi dengan kajian yang khas, yaitu aplikasi Pendekatan Satu Kutub (PSK). Penafsiran Ayat Kawniyah (eksakta-kosmologi) diuji-coba dengan rujukan Ayat Qawliyah (Seri 257). Penafsiran Ayat Kawniyah (non eksakta-sejarah), yang diuji-coba dengan rujukan Ayat Qawliyah (Seri 258). Penafsiran Ayat Qawliyah + Ayat Kawniyah (Nuzulu lQuran + sejarah Perang Badar), diuji-coba dengan rujukan ayat Qawliyah (Seri 259). Sebaliknya Seri ini menampilkan penafsiran Ayat Qawliyah diuji-coba dengan rujukan Ayat Qawliyah + Ayat Kawniyah.

Firman Allah: Yukawwiru ILayla 'alay nNaha-ri, wa Yukawwiru nNaha-ra 'alay ILayJi (S. AzZumar, 5). Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan slang atas malam (39:5).

Di atas itu adalah terjemahan Al Quran dengan Hak Cipta dari Departemen Agama Republik Indonesia. Terjemahan Mahmud Yunus: Dia memutarkan malam kepada siang dan memutarkan siang kepada malam. Yang berikut ini dikemukakan pula empat macam terjemahan: He maketh night to succeed day, and He maketh day to succeed night (Muhammad Marmaduke Pickthall, New York). Hij laat den nacht den dag overdekken en laat den dag den nacht overdekken (Soedewo, Jakarta). He makes the night cover the day, and makes the day overtake the night (World Organiza tion For Islamic Services, Teheran, Iran). He makes the night to cover the day, and He makes the day to cover the night (Maulawi Sher 'Ali, Rabwah, Pakistan). Yukawwiru diterjemahkan dengan menutup, succeed (mengganti, menyusul), overdekken (menutup), cover (menutup), dan overtake (menyusul).

Yukawwiru berasal dan akar kata Kef, Waw, Ra, Kawwara, artinya melilit sorban di kepala. Apabila kepala dililit sorban, maka kepala akan ditutup oleh sorban. Lilitan sorban itu susul-menyusul. Dilihat dan segi gaya bahasa jenis personifikasi, semua terjemahan ataupun penafsiran di atas itu dapat diterima. Siang dan malam dipersonifikasikan sebagai orang yang datang silih berganti, saling menutup antara satu dengan yang lain, ataupun diibaratkan sebagai orang yang saling berkejaran susul menyusul.

Disamping penafsiran menutup, mengganti, dan menyusul, masih ada yang dapat disimak dan melilit sorban. Yaitu dalam melilit sorban berlangsung proses melilit ataupun menggulung, sehingga ayat itu dapat ditafsirkan dengan: (Allah) menggulung malam atas siang dan menggulung slang atas malam. Penafsiran ini tidak masuk dalam gaya bahasa personifikasi, melainkan dari segi kinematika, ilmu gerak. Itulah barangkali sebabnya aspek menggulung ini luput dari perhatian para mufassirin, kecuali Mahmud Yunus dan Maurice Bucaille.

Penafsiran menutup selanjutnya kita uji-coba dengan rujukan Ayat Qawliyah: Yughsyiy lILyla nNaha-ra (S. Al A'ra-f, 54). Dia menutupkan malam pada slang (7:54). Temyata penafsiran nienutup, overdekken, to cover ini benar.

Penafsiran ini dapat pula dirujukkan pada ayat: Yuwliju LIayla fly nNaha-ri waYuwliju nNaha-ra fly LJayIi (S. Luqman, 29). Sesungguhnya Allah memasukkan malam ke dalam siang, dan memasukkan siang ke dalam malam (31:29). Sepintas lalu rujukan ini tidak mengena. Apa relevansinya antara menutup dengan memasukkan. Untuk itu perlu penjelasan lebih lanjut. Sebenarnya hal ini telah saya kemukakan pada Seri 043 yang berjudul: Memanfaatkan Kesempatan Sekilas.

Saya dapat memahami dengan puas makna memasukkan dalam S.Luqman 29 itu dengan proses yang sangat sederhana. Artinya pemahaman itu bukan dengan jalan mengkaji kitab-kitab tafsin, melainkan dengan memanfaatkan sekilas penistiwa. Pada musiin panas di negeri Belanda tahun 1973, seorang Belanda manula, yang sama-sama menempati gedung pemukiman H.T.O. di Den Haag, menyapa saya dengan ucapan goeden avond yang berarti malam yang baik, atau selamat malam. Padahal waktu itu matahari masih tinggl di atas ufuk, sekitar 30 derajat. Maklumlah di musim panas siang lebih panjang dari malam. Onang Belanda itu menyapa saya selamat malam pada hal hari masih siang. Buat saya inilah penjelasan memasukkan siang pada malam. Selama ini sudah lama saya tahu dalam musim panas daerah yang 4-musim, slang lebih panjang dari malam. Tetapi tidak pernah terpikirkan sebelumnya, bahwa inilah penjelasan S. Luqman, 29. Sangat sederhana penjelasannya, dan memenuhi hasrat kepuasan intelektual saya. Siang lebih panjang dari malam artinya sebagian slang itu masuk ke dalam malam. Walaupun hari masih siang sesungguhnya hari sudah malam. Orang mengucapkan selamat malam pada hal hari masih slang. Dalam hal ini sebagian siang menutup malam. Uji-coba penafsiran slang menutup malam ternyata cocok dengan rujukan Ayat Qawliyah S. Luqman, 29: slang masuk ke dalam malam.
-
Selanjutnya penafsiran to succeed dan to overtake kalau kita uji-coba dengan nujukan Ayat Kawniyah, memang kenyataannya demikian, sehabis gelap timbul terang, siang dan malam susul-menyusul. siang berganti malam.

Penafsiran yang terakhir yaitu menggulung akan diuji-coba dengan rujukan Ayat Kawniyah. Menurut Ayat Kawniyah terjadinya siang dan malam karena proses perpusingan bumi pada sumbunya. Kita manusia yang ada di permukaan bumi bergerak mengikuti gerak perpusingan bumi pada sumbunya. Pada waktu kita berada pada permukaan bumi yang separuh kena cahaya matahani, maka itulah siang. Dan sebaliknya pada waktu kita berada pada separuh permukaan bumi yang gelap kanena tidak kena cahaya matahari, itulah malam. Uji-coba penafsiran mengg├╝lung dengan rujukan Ayat Kawniyah ternyata benar. Alhasil semua penafsiran di atas itu setelah mengalami uji-coba, ternyata semuanya benar.

Mungkin ada yang bertanya, buat apa itu penafsiran Ayat Qawliyah diuji-coba dengan rujukan Ayat Kawniyah, atau sebaliknya penafsinan Ayat Kawniyah diuji-coba dengan rujukan ayat Qawliyah? Di dalain kehidupan beragama ketenteraman batin dan kepuasan intelektual keduanya merupakan satu kesatuan. Ketenteraman batin tidak mungkin akan tencapai puncaknya. jika kepuasan intelektual tidak terpenuhi. kanena manusia itu adalah makhluk yang berpotensi berpikir. Dan sebaliknya kepuasan intelektual tidak mungkin tercapai puncaknya, jika ketenteraman batin tidak terpenuhi, oleh karena manusia itu adalah makhluk yang berpotensi beriman. Inilah yang disebut dengan berdzikir dan berpikir, itulah yang disebut dengan UlulAlbab, keseimbangan antara berdzikir dengan berpikir. WaLlahu A']amu bi shShawab.

*** Makassar, 2 Februari 1997