14 Mei 2006

727. Virus Hermeneutika yang Ditebarkan oleh Orientalis

Ini adalah jihad intelektual yang saya emban (execute) melawan serangan-serangan para orientalis terhadap Al-Quran. Marilah kita timba dengan mengkopi bagian-bagian yang relevan saja dari situs Answering Islam dan milis debat_islam-kristen yang mengkritisi Al-Quran. Dengan menggunakan hermeneutika yaitu alat biblical criticism sejak abad ke-19, para orientalis telah membuat berbagai teori baru mengenai sejarah Al-Quran. Inilah antara lain buku-buku yang menebarkan virus hasil hermeneutika itu.

A. Mingana and A. Smith (ed.), Leaves from Three Ancient Qurans, Possibly Pre-'Othmanic with a List oftheir Variants, Cambridge, 1914;
G. Bergtrasser, "Plan eines Apparatus Criticus zum Koran", Sitrungsberichte Bayer. Akad., Munchen, 1930;
O. Pretzl, "Die Fortfuhrung des Apparatus ('riticus zum Koran", Sitzungsberichte Bayer. Akad., Miinchen, 1934;
A. Jeffery, The Qur'an as Scripture, R.F. Moore Company, Inc., New York, 1952.
Christoph Luxenberg (ps.) Die syro-aramaeische Lesart des Koran ; Ein Beitrag zur Entschl├╝sselung der Qur'?nsprache. Berlin, Germany : Das Arabische Buch, First Edition, 2000.
Ternyata Jefferylah yang paling banyak menguras tenaga dalam menebarkan virus hermeneutika tsb.

Mereka mengadopsi metodologi Bibel dengan alat (tool) hermeneutika ketika mengkaji al-Quran. Pendeta Alphonse Mingana menulis ”bahwa sudah tiba masanya untuk melakukan kritik teks terhadap al-Quran sebagaimana telah kita lakukan terhadap Bibel Yahudi yang berbahasa Ibrani-Aramaik dan kitab suci Kristen yang berbahasa Yunani”.

Dengan menggunakan hermeneutika, Jeffery mengedit Al-Quran secara kritis, sebagaimana dilakukan terhadap Bibel. Ia menyimpulkan sebenarnya terdapat berbagai mushhaf tandingan terhadap mushhaf Uthmani. Arthur Jeffery menyatakan Al-Quran tidak memuat Al-Fatihah, Al-Nass dan Al-'Alaq, karena surah-surah tersebut tidak ada dalam mushhaf Abdullah ibn Mas'ud. Arthur Jeffery juga menyatakan mushhaf Ubay ibn Ka'b mengandung dua surah ekstra. Inilah antara lain kata-kata nyeleneh Arthur Jeffery:
Sura I of the Koran bears on its face evidence that it was not originally part of the text, but was a prayer composed to be placed at the head of the assembled volume, to be recited before reading the book, a custom not unfamiliar to us from other sacred books of the Near East [The Muslim World, Volume 29 (1939), pp. 158-162. The Text of the Qur'an, Answering Islam Home Page]

Pada tahun 1977, John Wansbrough menerapkan hermeneutika literary, source dan form criticism ke dalam studi Al-Quran. Wansbrough berpendapat kanonisasi teks Al-Quran terbentuk pada akhir abad ke-2 Hijrah. Oleh sebab itu, semua hadits yang menyatakan tentang himpunan Al-Quran harus dianggap sebagai informasi yang tidak dapat dipercaya secara historis. Semua informasi tersebut adalah fiktif yang punya maksud-maksud tertentu. Semua informasi tersebut mungkin dibuat oleh para fuqaha' untuk menjelaskan doktrin-doktrin syariah yang tidak ditemukan di dalam teks, atau mengikut model periwayatan teks orisinal Pantekosta dan kanonisasi Kitab Suci Ibrani. Semua informasi tersebut mengasumsikan sebelum wujudnya standar (canon) dan karena itu, tidak bisa lebih dahulu dari abad ke-3 Hijriah. Menurut Wansbrough, untuk menyimpulkan teks yang diterima dan selama ini diyakini oleh kaum Muslimin sebenarnya adalah fiksi yang belakangan yang direkayasa oleh kaum Muslimin. Teks Al-Quran baru menjadi baku setelah tahun 800 M.

Pemikiran para Orientalis itu mempengaruhi pula Fazlur Rahman yang telah dibicarakan dalam no.19, serta para pengecer antara lain Mohammed Arkoun dan Nasr Hamid Abu Zayd. Melacak sejarah Al-Quran, Mohammed Arkoun sangat menyayangkan jika sarjana Muslim tidak mau mengikuti jejak kaum Yahudi-Kristen. Akibat menolak metode hermeneutika sebagai alat dalam biblical criticism, maka dalam pandangan Arkoun, studi Al-Quran sangat ketinggalan dibanding dengan studi Bibel. Ia berpendapat metodologi John Wansbrough yang menerapkan hermeneutika, memang sesuai dengan apa yang selama ini memang ingin ia kembangkan. Arkoun mengusulkan supaya membudayakan pemikiran liberal (free thinking).

Seirama dengan Mohammed Arkoun, Nasr Hamid berpendapat teks Al-Quran terbentuk dalam realitas dan budaya, selama lebih dari 20 tahun. Oleh sebab itu, Al-Quran adalah 'produk budaya' (muntaj thaqafi). Disebabkan realitas dan budaya tidak bisa dipisahkan dari bahasa manusia, maka Nasr Hamid juga menganggap Al-Quran sebagai teks bahasa (nas lughawi). Hamid menyalahkan penafsiran yang telah dilakukan oleh mayoritas mufassir yang selalu menafsirkan Al-Quran dengan muatan metafisis Islam. Dia amat terkagum-kagum dapat belajar di Amerika.. Ia menyatakan sangat berhutang budi atas kesempatan yang diberikan kepadanya itu. Di sanalah ia terbelalak matanya bertemu ilmu yang belum pernah terlintas dalam benaknya selama ini, yaitu hermeneutika. Baginya, hermeneutika adalah ilmu baru yang bermanfaat dalam berolah otak. "My academic experience in the United States turned out to be quite fruitful. I did a lot of reading on my own, especially in the fields of philosophy and hermeneutics. Hermeneutics, the science of interpreting texts, opened up a brand-new world for me. I owe much of my understanding of hermeneutics to opportunities offered me during my brief sojourn in the United States"

Seperti anak kecil yang baru dapat pistol mainan, ia segera mencari sasaran tembak di sekitarnya. Kalau pisau hermeneutika bisa dipakai untuk membedah Bibel, maka tentu itu dapat pula digunakan untuk mengkritisi Al Quran. Bukankah keduanya itu sama, sama-sama kitab suci. Demikian logika Abu Zayd yang memakai asas paralelisme. Hermeneutika ini diulas dalam nomor 25 tentang bahayanya terhadap aqidah.

Di Indonesia virus hermeneutika menjangkiti para pengecer yang bergabung dalam kelompok yang menamakan dirinya Jaringan Islam Liberal (JIL). Pengecer Luthfi Asysyaukani, dosen Sejarah Pemikiran Islam di Universitas Paramadina, Jakarta, dan Editor JIL, yang menjiplak tulisan para orientalis, menulis antara lain:
"Al-Quran kemudian mengalami berbagai proses "copy-editing" oleh para sahabat, tabi'in, ahli bacaan, qurra, otografi, mesin cetak, dan kekuasaan. Kaum Muslim yang meyakini bahwa Al-Quran yang mereka lihat dan baca hari ini adalah persis seperti yang ada pada masa Nabi lebih dari seribu empat ratus tahun silam, adalah keyakinan yang sesungguhnya lebih merupakan formulasi dan angan-angan teologis (al-khayal al-dini) yang dibuat oleh para ulama sebagai bagian dari formalisasi doktrin-doktrin Islam."

Di Makassar ini virus itu menjangkit pula dalam diri pengecer Taufik Adnan Amal, dosen di IAIN Alauddin Makassar (nama yang dahulu, sekarang Universitas Islam Makassar), aktivis JIL, juga menjiplak pemikiran para orientalis, antara lain menulis:
"Bagi rata-rata sarjana Muslim, "keistimewaan" Mushhaf 'Utsmani merupakan misteri ilahi dan karakter kemukjizatan al-Quran. Tetapi, pandangan ini lebih merupakan mitos."

Firman Allah dalam S. al-Hijr, 15:9

artinya:
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya kami benar-benar memeliharanya.

Inilah jaminan Allah tentang kesucian dan kemurnian Al Quran selama-lamanya. Dalam nomor Seri berikutnya dipaparkan bagaimana caranya Allah memelihara keaslian Al-Quran dan menunjukkan Arthur Jeffery memfitnah Abdullah ibn Mas'ud dan Ubay ibn Ka'b dan kesia-siaan upaya John Wansbrough.

*** Makassar 14 Mei 2006